Film tentang kekacauan ekonomi
Di balik canggihnya adegan aksi tembak-tembakan –yang menurut sutradaranya (Angga Dwimas Sasongko) sudah dilatih dan dipersiapkan dengan baik– dan segala instrumen pendukung film yang dipersiapkan dengan baik –seperti adegan mobil meledak. Film ini cukup menyajikan tema yang segar, kekacauan ekonomi.
Jika hanya menonton cuplikan (trailer) film mungkin akan sedikit kebingungan dengan maksud yang disampaikan –ntah, karena pesan filmnya terlalu tinggi atau masyarakat Indonesia yang tidak mengerti. Mayoritas kita (mungkin) menilai dari sisi aksi dan tembak-tembakannya saja, tidak salah, tapi masih ada banyak hal yang menarik.
Setelah saya menonton film ini, saya teringat akan film The Dark Knight (2008), Arok atau Ismail Gani (Rio Dewanto) digambarkan sebagai Joker, sebagai karakter antagonis yang tidak mementingkan uang, “It’s not about money, it’s about sending a message”. Dalam film ini tergambar dalam adegan penembakan mobil brankas dan perkataan Waluyo (Muhammad Khan), “Kami ngga butuh uang, kami di sini cuman ngisi hari-hari kosong, karena semua yang kami punya udah dirampas, dirampas oleh sistem keuangan yang korup.”
Akan tetapi, Joker dan Batman di dalam The Dark Knight digambarkan secara hitam putih, ditambah korupsi yang digambarkan masih terlalu abstrak menurut Geger Riyanto dalam artikelnya Joker dan Kekerasan Objektif. Dengan kata lain, Joker (2019) memiliki beberapa dimensi sosial politik yang ikut mewarnai film tersebut, juga dengan Arok atau Ismail Gani (Rio Dewanto) dalam film ini, yang digambarkan dalam sebuah kasus korupsi Dana Surya.

Lebih dari itu, saya teringat akan artikel Libertarian Bersaudara: Resensi Buku Anarchy, State, and Utopia dan The Philoshoper and His Poor oleh Martin Surjaya. Pada intinya ialah membahas kekacauan ekonomi dari politik kanan dan politik kiri atas ketidakteraturan yang ada.
Politik kanan diwakilkan dengan kondisi pemerintahan yang buruk yang bertumpu pada pasar bebas yang tidak terkontrol menciptakan mafia dan oligarki ekonomi. Dalam film digambarkan oleh perkataan Arok atau Ismail Gani (Rio Dewanto):
“Setiap doktrin pertumbuhan ekonomi, hanya membuat elit kaya menjadi semakin kaya, dan rakyat kecil terus dieksploitasi dan hidup sengasara, maka atas nama kemiskinan sistematis yang terjadi sepanjang hidup kita, kami melancarkan perlawanan terhadap ketidakadilan, oligarki, dan mafia keuangan, keadilan akan ditegakkan dengan cara radikal dan kesempatan setiap orang untuk setara dalam kehidupan ini harus dikembalikkan, … sistem yang rakus ini harus bertanggung jawab, dan sekarang waktunya kita melawan.”
Merujuk jurnal yang pernah saya buat terkait oligarki, kelahiran oligarki sendiri disebabkan karena negara dan korporasi –khususnya korporasi yang dekat dengan pemerintah– saling mengambil keuntungan untuk mengambil dan mempertahankan kekayaan, seperti sumber daya alam, keuangan, dan sebagainya. Sistem ini menciptakan beberapa orang kaya saja –dan tetap bisa mempertahankan karena bisa mengatur pemerintah.
Sedangkan dalam konteks film ini, politik kiri diwakilkan oleh sistem Bitcoin.
Mengapa bitcoin? Ya, bitcoin adalah gambaran yang tepat untuk menggambarkan kekacauan sistem keuangan, kenapa? karena tanpa informasi personal atau anonim, terdesentralisasi atau hanya tercatat antara penjual dan pembeli bitcoin, karena sistem kripto yang mengenskripsinya atau menguncinya. yang dalam konteks film ini dilakukan melalui cuci uang untuk kegiatan teroris.
Karena sistem anonimus itulah, bitcoin acapkali menjadi wadah pencucian uang untuk dan dari beberapa kejahatan seperti korupsi, narkoba, hingga teroris. Pencucian uang sendiri merupakan uang hasil dari kejahatan yang disembunyikan atau dicuci atau dialihkan yang nantinya ditunjukan untuk kegiatan-kegiatan yang umumnya merupakan kejahatan juga, pun kalau kegiatan normal dihitungnya tidak boleh.
Di dalam film tergambar dalam percakapan salah satu pendiri Indodax, Willam (Ardhito Pramono), “Pelaku jelas orang yang paham bahwa tebusan dalam bentuk bitcoin akan jauh lebih efektif dibanding uang tunai, transaksi cripto itu bentuknya, sifatnya anonim dan psudonim, jadi akan sangat sulit untuk bisa melacak pengirim dan penerima.”
Data kejahatan mata uang kripto sendiri menurut laporan The 2024 Crypto Crime Report yang dikeluarkan oleh Chainalysis mencatat transaksi pencucian uang bitcoin dari tahun 2019 hingga 2024. Terbaru, di tahun 2023 tercatat 22.2 juta dollar, sementara puncaknya di tahun 2022, yaitu 31.5 juta dollar, sedangkan terendah ialah di tahun 2020 yaitu 9.9 billion dollar.
Bitcoin sendiri, tergambar dari manifesto pendiri bitcoin dalam artikel Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System, yang dalam tulisannya secara gamblang menyatakan tidak perlu lembaga keuangan (desentralisasi). Sedangkan sistem keuangan kita saat ini bergantung kepada bank sentral dan segala instrumennya.
Yang dalam film tercatat oleh perkataan salah satu pendiri Indodax, Oscar (Chicco Kurniawan), “kita menatap masa depan, Dunia finansial inklusif dan transparan, terbebas dari yang namanya ketidaksetaraan dan sentralisasi.”
Sebenarnya keduanya (baik itu sistem bitcoin yang terdesentralisasi dan sistem ekonomi pemerintahan yang tersentralisasi) bisa terjadi di dua kubu, oleh karenanya dipanggil si ‘kembar’ oleh Martin Suryajaya. yang pada intinya sama-sama menggambarkan kekacauan ekonomi.
Secara keseluruhan, Indonesia membutuhkan film yang sekiranya bisa menjelaskan konteks yang rumit ke dalam satu tontonan yang apik dan menarik, bukan sekedar mengikuti arus cinta-cintaan yang menjijikan. Untuk apa? untuk menggambarkan skema kemungkinan terburuk jika pemerintah tidak mampu mengatasi korupsi secara besar-besaran.
Dan film ini sangat tepat menggambarkan keseluruhan kompleksnya kekacauan ekonomi, beserta unsur bitcoin di dalamnya, dengan penulisan naskah yang tepat dan apik.
Dari catatan saya terdapat 30 percakapan terkait ekonomi yang kacau dan unsur bitcoin di dalamnya. 22 percakapan tentang ekonomi yang kacau dan 8 khusus bicara terkait bitcoin.
Atau sekiranya film ini sulit ditangkap pesannya, setidaknya ini menggambarkan betapa lemahnya infrastruktur keamanan digital di Indonesia, terlebih pejabatnya. Yang digambarkan dalam perkataan Damaskus (Rukman Rosadi), “Hanya kalian berdua dan kripto yang bikin mereka selangkah di depan saya hari ini.”

Daftar Bacaan:
- Martin Surjaya. Libertarian Bersaudara: Resensi Buku Anarchy, State, and Utopia dan The Philosopher and His Poor. 17 September 2013, Indprogress.
- Chainalyasis. The 2024 Crypto Crime Report. February 2024.
- Satoshi Nakamoto. Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System.
- Kemal Pahlevi. Nutup Jalan Utama Fatmawati Buat Ledakin Bom Itu Gila Sihh. 18 December 2023, Youtube.
- Christopher Nolan. The Dark Knight. 18 July 2008.
- Geger Riyanto. Joker dan Kekerasan Objektif. 13 October 2019, Indoprogress.
- Todd Philips. Joker. 4 October 2019.
- Adi Fauzanto. Problematika Oligarki, Korupsi, dan Relasi Kuasa dalam Batu Bara dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap. Jurnal Ilmiah Muqoddimah, Volume 5 Number 1 2021. DOI: http://dx.doi.org/10.31604/jim.v5i1.2021.95-103
